Minggu, Agustus 31, 2008

Awal Ramadhan

aku bersimpuh di hadapan-Mu
mengenang apa yang telah kuperbuat setahun silam.
Kutemukan terlalu banyak hilaf dan dosa telah melilitku,
seolah terlihat tubuh ini penuh borok, penuh bercak luka.
Ya Allah, rasa sakit menggeryangi sekujur tubuhku ini,
seolah aku tak lagi bisa berdiri dan berlari merambah hari depanku.
Karena itu ya Allah Yang Mahakuasa,
kuatkanlah jiwaragaku menerima cobaan-Mu ini,
kuatkanlah kakiku meniti di atas ujung tombak para iblis yang saat ini mengintai dan menjebakku ke mana arah langkahku!
Ya Allah Yang Mahapengampun, ampunilah segala salah dan dosaku
agar aku bisa tegak berdiri dan istiqamah di jalan-Mu.
Ya Allah, Yang Mahabijaksana,
berilah aku jalan yang selalu dapat mendekatkan diri kepada-Mu,
jauhkanlah aku dari segala jalan yang dapat menjauhkan aku dari-Mu
("apakah itu harta, jabatan atau apa pun namanya").
Ya Allah, kuatkanlah jiwa dan tubuhku untuk melaksanakan puasa tahun ini
sehingga lebih baik daripada puasa tahun sebelumnya,
kuatkanlah isteri dan anak-anakku menunaikan ibadah puasa ini.
Janganlah sisakan dendam, irihati, dengki
dan segala penyakit hati di antara kami,
sebaliknya limpahkan rahmat kasih sayang dan berkah-Mu kepada kami
agar kami selalu dapat tegak di jalan-Mu.
Lindungilah harta, isteri dan anak-anak kami, kedua orang tua kami
dari segala macam malapetaka dan bahaya
dan jauhkanlah kami dari siksa api neraka-Mu.
Amien. Mangkasara, 1 September 2008

Selasa, Agustus 26, 2008

Sajak-Sajak dari Tanah Makassar:

ACCERAK SITONGKA-TONGKA


I

Accerak sitongka-tongka

Rasa senasib sepenanggungan

Rasa sehidup sependeritaan

Rasa sehaluan sekemudi mengayuh biduk kehidupan

Ini adalah warisan leluhurku

Yang berurat berakar dalam jiwaku

Yang menular dalam darahku

Satu arah satu pulau dituju

Satu kata dan perbuatan disepakati

Itu yang lahir sebagai bukti

Itu pula yang terbelam dalam hati

Accerak sitongka-tongka

Ciri budaya mewarnai hidup kami

Mendirikan gubuk di atas tangan semua

II

Hidup tidak mengenal kasta manusia

Tiada luka tidak terbalut

Tiada sedih tak terobati

Tiada gembira tak terbagi-bagi

Suka dan duka milik bersama

Di sini tiada penghisapan darah sesama

Tiada tipuan tiada kepalsuan

Accerak sitongka-tongka menghapus kepentingan pribadi yang keterlaluan

Membangun suatu rasa kebersamaan

Darah yang mengalir dalam tubuhmu

Itu juga yang mengalir dalam tubuhku

Darahku darahmu

Darahmu darahku

Inilah accerak sitongka-tongka

III

Sekali-kali jangan biarkan ia sendiri mengangkat bebannya

Siapa tahu tangannya lenyai hatinya lusuh

Siapa tahu tidak mampu lagi ia berdiri berlari

Dia membutuhkan kamu

Kamu membutuhkan dia

Dialah kamu

Kamulah dia

Tidak bisa mengingkar

Kita tidak bisa membiarkan orang dianiaya

Kita tidak boleh hanya menonton orang bekerja

Sepercik darahnya kutuangkan dalam diriku

Lalu aku berangkat bersamanya

1979


SAMARATANA HELLALLA *)


Samaratana hellalla, samaratana hellalla, hellalla …

Kurenda pelangi saat senja terjerat lara

Kupintal mimpi saat malam tertikam diam

Mengapa lari dari mentari

Sembunyi di balik tirai kenisbian diri

Mengapa mengeluh pada rembulan

Sangsi karena merasa tak berdaya


Samaratana hellalla, samaratana hellalla, hellalla …

Kuanyam gairahmu saat kau asing sendiri

Kutenun sukmamu saat kau resah gelisah

Mengapa tak kausatukan gerakmu

Dobrak segala tembok merintang

Mengapa tak kaupadukan nafasmu

Patahkan segala rantai mengikat


Samaratana hellalla, samaratana hellalla, hellalla …

Perahu melaju menuju maut

Kembangkan layar kehidupan

Tangan-tangan perkasa mendayung tak henti-henti

Hati-hati teguh mendoa tak putus-putus

Dayunglah, dayung, dayung perahumu ke tujuan saja

Samaratana hellalla, samaratana hellalla, hellalla …

2008

*) yel-yel anak perahu saat mendorong perahu ke laut lepas


PERCAKAPAN SEORANG RAJA DENGAN PENGIKUTNYA


Tojeng-tojeng, Karaeng!

Cinik-ciniki mami sallang

Ata mattojeng-tojengmu

Ata makbannang kebonmu

Burakne tojenga

Tojeng-tojeng, Karaeng! *)

Ini sungguh benar, Paduka!

Lihat saja nanti

Hamba setiamu

Hamba sebenarnya hamba

Lelaki sejati

Ini sungguh benar, Tuanku!


Inilah pengikutmu setiamu

Yang tak mengenal jalan kembali

Yang dapat berangkat ke mana saja

Yang tidak takut kepada siapa saja

Ini sungguh benar, Paduka!


Paduka akan lihat sendiri

Di medan juang nanti akan kubuktikan apa yang kukatakan

Di dekat hutan balantara akan kutantang musuh-musuhmu

Ini sungguh benar, Paduka!


Inilah pengikutmu

Yang memiliki kekuatan

Yang memiliki kepercayaan

Yang memiliki kejujuran

Ini sungguh benar, Paduka!


Lihat saja siapa di antara pengikutmu

Yang dapat mempertahankan adat kerajaanmu

Yang dapat mempertahankan kebenaran kebesaranmu

Karena kebenaran dan kerajaanmu cuma satu, Tuanku!

Kerajaanmu mengukuhkan kebenaran

Kebenaran mengukuhkan kerajaanmu

Ini sungguh benar, Tuanku!


Tojeng-tojeng, Karaeng!

Inai-naimo sallang tampa teteki ri adak

Tampa empoki ri kuntu tojeng

Kupannepokangi sallang pasorang ri tangnga parang

Kupanrepekangi sallang pangngulu ri barugaya

Tojeng-tojeng, Karaeng! *)

Ini sungguh benar, Tuanku!

Siapa saja yang berani menodai kerajaanmu

Siapa saja yang berani menolak kebenaraanmu

Akan kupatahkan batang lehernya dengan ujung tombak di tengah padang

Akan kupecahkan ia dengan hulu kerisku di tengah gelanggang

Paduka Tuanku, akan kulakukan apa saja demi kerajaan ini

Selama kerajaan ini masih mengakui kebenaran

Ini sunggguh benar, Tuanku!


Aku bukan cuma pengikutmu

Aku tidak berjuang hanya karena kerajaan ini

Tidak, Tuanku!

Aku hanya berjuang demi kebenaran

Karena kebenaran itulah kerajaanmu

Jika kerajaan ini tidak lagi dalam kebenaran

Akan kulawan kerajaan ini

Ini sungguh benar, Paduka!


Paduka mencabut kerisnya lalu berseru kepada para pengikutnya:

Kalian benar, pengikutku!

Aku bukanlah raja jika kalian melawanku

Aku bukanlah raja jika kalian tak menempatkanku sebagai raja

Kerajaan ini memang mutlak didukung kebenaran

Kebenaran itulah kerajaan abadi sepanjang masa

Karena itu ikutlah aku selama aku dalam kebenaran

Sungguh benar, Tuanku! Balas para pengikutnya serentak

1980

*) Sumpah pengawal raja dalam Bahasa Makassar.


BEJANA


I

Bejana-bejana berbenturan

Pecah

Sejuta harapan sirna

Garangnya kehidupan

Korbannya kita

Sejuta pinta terlunta

Memperdalam luka

Ketika serigala-serigala lapar mengaum

Kuku tajamnya menghunjam jiwaku

Darahnya mengucur

Mangsanya kita

II

Kita memerlukan sebuah bejana

Berisi cinta tulus tak kan pecah

Biar sejuta iblis ingin menghancurkannya

III

Dunia kita bagai bejana

Dindingnya telah keropos

Isinya: keserakahan

IV

Bejana

Bejana

Bejana

Sampai hatikah kauhancurkan bejana kita?

1983


KEMERDEKAAN BELATI BAGI SEGALA TALI YANG MELILIT


I

Kemerdekaan

Hulu sungai tak pernah keruh

Laut tak menyimpan taifun

Rimba tanpa serigala

Langit selalu cerah

Adalah satu mata angin

Kearahnyalah kita dibidikkan

Adalah satu tempuhan

Kesanalah kita dihalau

Adalah sebuah gubuk

Di dalamnyalah kita mereguk kehidupan

II

Kemerdekaan

Belati bagi segala tali yang melilit

Matahari bagi segala kesenyapan

Api yang menyulut sumbu kearifan

Kitalah yang terjajah nafsu keserakahan

Membenam di dada malam

Terbuai melodi duniawi

Lalu menutup semua pintu semua jendela

Mestikah kita menyerah

Lalu menyatu pada asap jelaga kenistaan

Kemerdekaan

Kita yang bergerak maju tak henti-henti

Kita yang takluk pada kekuasaan Ilahi

2006


YANG KUDENGAR ADALAH


Yang kudengar adalah

Keluh rembulan

Tangis matahari

Yang kulihat adalah

Luka bianglala

Darah burung dara

Yang kurasakan adalah

Risau kemarau

Perih senjakala

Yang kugenggam adalah

Benih niskala

Ini segala gerak

2007


PERJUANGAN ADALAH


Perjuangan adalah

Perih segala luka

Bisa segala duri

Raung segala tangis

Terik segala kemarau

Sari segala bunga

Wangi segala pencinta

Hulu segala laut

Api segala nyala

Hakikat segala gerak

Titian segala kemerdekaan

1986


YANG KUCARI ADALAH


Yang kucari adalah

Danau yang airnya selalu bening

Yang kucari adalah

Gadis yang selalu kukuh dengan kehormatannya

Yang kucari adalah

Pemerintahan yang menterinya hanya satu: Kejujuran!

1986


MAULID


Maulid adalah

Awal segala hayat

Bayang-bayang surgawi

Tangan membelai masa

Matahari segala matahari

Awan memayungi alam

Penyeguk segala dahaga

Pembebasan segala tahanan

Potret segala mahluk

Nikmat berlimpah

Puncak segala kesakitan

Aku mencari

Menyatu dalam rasa sakitmu

1986


SUARA NISKALA


Suara niskala menyentak senja

Dengarlah

Rintih diri letih

Karena melawan hati

Suara niskala menyentak senja

Dengarlah

Raung sukma luka

Karena melawan diri

Suara niskala menyentak senja

Dengarlah

Isak rakyat menyayat

Karena terinjak kuda binal kerajaan

Suara niskala menyentak senja

Dengar

Dengarlah

Gelegar alhaq di dada cakrawala!

1999


KEMERDEKAAN ADALAH AKU YANG MENITI DI ATAS BARA MATAHARI


Kemerdekaan adalah rimba raya

Bagi segala jenis satwa

Kemerdekaan adalah taman subur

Bagi segala jenis benih yang bakal tumbuh


Kemerdekaan adalah laut lepas

Bagi segala bangsa ikan yang memerlukan perlindungan

Kemerdekaan adalah titian lurus

Bagi seluruh pelintas jalan


Kemerdekaan adalah aku

Yang berdiri di atas bara matahari

Kemerdekaan adalah aku

Yang menyelam ke dasar samudra malam


Kemerdekaan adalah aku

Yang meniti ujung pisau belati sang waktu

Kemerdekaan adalah kita

Yang jiwaraganya tak lagi terjajah

Kemerdekaan adalah kita

Yang menjadi nafas gerak bangsa


Kemerdekaan adalah kita

Yang merindukan Negara makmur di bawah ampuran Tuhan

1998


MI’RAJ


I

Kucoba membasuh luka dengan embun dinihari

Teriknya siang menghisapnya kering

Kucoba membalut luka dengan selendang senja

Angin kencangnya merentangnya lepas

Bersatulah tangan luka

Semburkan darahmu ke dada cakrawala

Tantanglah angin perangi matahari

II

Adalah tanjakan terjal

Di kiri kananmu jerat iblis menanti

Kucoba tegak kearah-Mu

Kululuh dalam aku-Mu

Di belakang rosul aku memacu

Meski waktu semakin melesat maju

III

Adalah jiwa tengadah

Luluhlah tubuhku pada-Mu

Rengkunglah ia

Meski masih tertipu dunia

Ilahi,

Kuingin mandi di telaga redha-MU

1999


KUNJUNGAN KE AUSTRALIA


I

Kabut di hadapanku menebal

Angin kering bertiup kencang

Kupikir kutaksanggup menembusnya

Mataku mulai perih

Aku tahu harus berbuat apa

Kutenun emosiku ke dalam selimut jiwaku

Sementara waktu terus berlalu

II

Melbourne di pagi hari

Tak terjadi kemacetan

Hatiku tertumbuk pada ruas Queen Road

Melbourne di tengah hari

Bayang kehidupan menyelusup relung-relung kota

Bunga banksia mengusik keheninganku

Melbourne di sore hari

Keringat membasahi sekujur tubuhnya

Aku menjadi keringat itu

2000

Profil Saya


Assalamu Alaikum Warahmatullah Wabarakatuh
Nama saya Muhammad Hamzah Zaidin. Lahir di Takalar pada tanggal 13 Juni 1953. Pendidikan terakhir Fakultas Pascasarjana Universitas Gadjah Mada Program Studi Psikometri tahun 1994. Menikah pada tahun 1985. Isteri saya bernama Siti Darmini Syukur. Telah memiliki anak 4 (empat) orang, Muhammad Iqbal Isnaeni, Ika Sastrawati, Muhammad Sardjito Ibnuqoyyim dan Muhammad Ibrahim Hamzah. Alamat rumah: Jalan Mallengkeri Luar II No. 23 Telp. 0411-884978 Makassar, Sulawesi Selatan.
Pekerjaan: Guru Bahasa Inggris SMAN 2 Makassar. Kegemaran: Membaca dan Menulis.
Yeah, this is my profile, if you wish to contact me, please feel free to write to me via my email addresses: mhzaidin@gmail.com or zaidin01@yahoo.com.hk. We can chat and exchange valuable information on how to live a happy life.
Makassar, 27th August 2008